Yup betul bgt, yg pembaca pikirkan saat membaca judul itu bener banget,kenapa udah faham kok tetep ngawur? Tulisan saya kali ini ttg bagaimana orang2 jakarta sebenernya sangat faham dan lihai dalam membedakan hal2 yg benar dan yg salah.
Nyaris semua warga ibukota ini pasti ngerti kok kalo berhenti disekitar marka No Stop itu dilarang, parkir percis di marka No Parking juga tidak di bolehkan, termasuk menyalip di bahu jalan di jalan tol juga sangat faham itu dilarang, dan hal2 lainya yg dilarang juga saya yakin pada tau yaitu melanggar lampu merah, berjalan zig-zag, kebut2an, dll.
Sekarang kita lihat para pengemudi motor, pasti tau dong melintas trotoar, berjalan melawan arah, tidak berhelm menerobos lampu merah juga sangat faham itu tidak diizinkan.
Sering lihat kan di lampu merah jam brangkat maupun pulang kantor para pengendara motor berjejer di baris terdepan malah melebihi batas rambu dan yg bikin sewot mereka berdiri disana tidak melihat lampu sudah hijau atau masih merah.
Kalo sudah hijau lampunya tapi belum mulai jalan, harap para pengemudi mobil understand masih byk kendaraan yg dari arah lain masih terus menerobos lampu merah, silahkan bersabar, tapi yg lebih ngawur lagi mentang2 dari arah lain sudah tidak ada kendaraan dan sepi walaupun belum hijau tapi motor2 itu malah menerobos lampu merah. Heheeee .. saya pernah tepat di bekalang para motoris2 itu karna sudah sepi walaupun masih merah lampunya karna tangan saya tidak sengaja menekan klakson tiba2, bbrrrmmm …. semua motor didepan saya terbang , gak sengaja kalee …. tapi justru saya senang karna motor didepan saya sudah bersih, nyaman untuk melintas. Sangat mengganggu bila berada di belakang mereka, risih , ngeri untuk melintas …………..
Poin saya di tulisan ini adalah bahwa walaupun sadar nan faham hal2 itu dilarang, kenapa akal sehat tidak bertindak memerintahkan anggota tubuh lainnya untuk tetap mematuhi aturan itu. Kenapa justru akal yg tidak sehat yg sangat berpengaruh terhadap tindakan2 kita.
Apakah sebegitu lemahnya iman kita, atau lebih enak ikut crowd, kebanyakan melanggar dan mumpung rame2 jadi ikut ajah. Tradisi lama orang jawa masih dipake di kota metropolis ini: ” mangan ora mangan asal ngumpul”. Yes , ngelanggar atau tidak yg penting rame2. Sama kayak tawuran STM beraninya rame2 keroyokan.
Dimana iman sekarang bersemayam? dimana kata hati bisa terdengar jelas dan membangkitkan keimanan? Semua nya terlihat luntur disaat menghadapi macet jakarta yg sangat menyiksa ini. Dan menjadi terbiasa karena sudah terlalu sering dilakukan.
Pembaca yg saya hormati, mulailah dari kita sendiri, tunjukan yg benar adalah benar dan yg salah tidak usah diikuti. Someone has to start, seseorang harus memulai bergerak benar, biarlah ygpada berbuat salah bisa melihat, semoga bisa mengambil pelajarannya dan mengembalikan iman di hati masing2 dan bertindak semestinya, dengan etika.
regards, HAN
click here for bird
Categories:
Tags: dilarang parkir, faham, faham tapi ngawur, ibukota jakarta, kebut kebutan, lalulintas macet, ngawur, no parking, parkir sembarangan, seseorang harus memulai bergerak benar, trotoar







